Mengatasi Kerontokan pada Bulu Kucing

0 10468
Rahasia Agar Bulu Kucing Tidak Rontok

Rahasia Agar Bulu Kucing Tidak Rontok

Kucing memiliki daya tarik sendiri bagi manusia. Salah satu daya tariknya adalah bulu yang indah. Apabila bulu kucing terlihat indah, maka kita pun bisa terpesona karenanya. Akan tetapi, jika bulu kucing terlihat kusam dan pitak, maka jangan heran kalau ada orang yang risih melihatnya lantaran menganggapnya kucing garong.

Salah satu penyebab bulu kucing pitak adalah kerontokan bulu. Walaupun kerontokan bulu terkadang dapat dikatakan normal, namun tidak selalu begitu adanya. Apabila kerontokan bulu disertai bulu yang menipis, terdapat area yang pitak, dan terjadi peradangan pada daerah kulit tertentu, maka kemungkinan ada yang tidak beres dengan kucing Anda. Mungkin saja bulu kucing Anda rontok karena alergi, kelainan autoimun, infeksi bakteri, kemoterapi, tungau, hipoadrenokortisme, obat-obatan, kondisi tertekan, hipertiroidisme, suntikan medis, kutu, dan reaksi terhadap sinar matahari.

Alergi

Kerontokan bulu kucing bisa disebabkan oleh alergi terhadap sesuatu yang bersentuhan dengan kulit atau termakan oleh kucing. Alergi bisa disebabkan oleh beberapa hal. Kita akan membahasnya satu per satu pada bagian ini.

Yang pertama, alergi yang terjadi setelah terekspos terhadap antibiotik yang diterapkan pada kulit. Misalnya, logam dari jenis nikel, benda-benda seperti karet, wol, plastik, dan pewarna. Gejalanya adalah kulit memerah dan terdapat benjolan kecil pada area kulit yang jarang ditumbuhi bulu. Cara mengatasinya adalah dengan mengurangi pendedahan terhadap alergen tersebut. Selain itu dapat juga digunakan steroid dan antihistamin.

Yang kedua, alergi yang terjadi karena sesuatu yang dihirup oleh kucing, seperti jamur, serbuk sari, atau tungau. Gejalanya adalah kucing menjilati kaki, terjadi peradangan pada telinga, gatal-gatal, kemerahan, dan kerontokan bulu. Cara mengatasinya adalah dengan mengurangi pendedahan terhadap alergen tersebut. Selain itu dapat juga digunakan steroid, omega 3, suplemen asam lemak, antihistamin, sampo, dan imunoterapi.

Yang ketiga, alergi yang terjadi karena makanan. Gejalanya sama dengan alergi yang kedua. Cara mengatasinya adalah dengan perubahan dalam diet.

Infeksi Bakteri (Pyoderma)

Pyoderma adalah infeksi bakteri yang umumnya terjadi karena adanya trauma pada kulit sebagai akibat dari gigitan maupun cakaran. Akibatnya, terjadi kerontokan bulu pada daerah tertentu. Karena pyoderma adalah infeksi sekunder, perlu diketahui terlebih dahulu penyebabnya. Sebaiknya konsultasikan hal ini pada dokter hewan.

Hipoadrenokortisme

Hipoadrenokortisme disebabkan peningkatan kortikosteroid dalam tubuh. Hal itu terjadi karena adanya efek samping dari terapi kortikosteroid dosis tinggi atau yang berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Gejalanya adalah kerontokan rambut, penipisan kulit, hiperpigmentasi, seborrhea, komedo, lesu, peningkatan rasa haus, dan banyak mengeluarkan air seni.

Ada dua penyebab dari hal ini, yang pertama karena tumor dan yang kedua karena pemberian steroid dalam dosis tinggi. Untuk penyebab pertama lebih baik diserahkan kepada dokter hewan karena membutuhkan operasi. Untuk penyebab kedua hal ini dapat diatasi dengan mengurangi dosis steroid secara perlahan.

Hipertiroidisme

Hipertiroidisme adalah kelainan yang paling sering terjadi diantara kelainan yang umumnya terjadi pada kucing. Gejalanya adalah berkurangnya berat badan, rasa haus yang berlebihan, sering buang air kecil, dan nafsu makan yang berlebihan. Cara mengatasinya adalah dengan terapi radioaktif iodine.

Kutu

Air liur kutu dapat menyebabkan alergi pada kucing. Bagian ini sengaja dipisahkan dari bagian Alergi di atas karena akan dibahas lebih spesifik. Gejalanya adalah gatal-gatal yang intensif, kulit kemerahan, dan kerontokan rambut. Untuk mengatasinya, perlu dilakukan pengendalian hama kutu. Selain itu dapat juga diberikan steroid dan antihistamin.

Category: Kesehatan, PerawatanTags: