Vaksin untuk Kucing

0 8200
vaksin kucing

Vaksin Untuk Kucing

Vaksin adalah suatu bahan yang menstimulasi produksi antibodi yang memberikan kekebalan terhadap penyakit tertentu. Vaksin dibuat dari agen penyebab penyakit, produknya, atau dibuat dari bahan sintetis penggantinya. Bahan-bahan tersebut berperan sebagai antigen yang tidak merangsang penyakit bagi penggunanya.

Pemberian vaksin pada manusia untuk mendapatkan kekebalan tubuh disebut vaksinasi. Hal tersebut tidak berlaku hanya bagi manusia, tetapi juga berlaku bagi hewan, misalnya kucing. Artinya, pemberian vaksin pada kucing untuk mendapatkan kekebalan tubuh tetap disebut vaksinasi. Sebaiknya, vaksinasi kucing dilakukan oleh dokter hewan.

Jenis-jenis Vaksin untuk Kucing

Terdapat dua jenis vaksinasi untuk kucing. Jenis pertama dalah vaksinasi inti (core) dan vaksinasi non-inti (non-core). Vaksinasi inti adalah vaksinasi yang harus dilakukan pada kucing selama hidupnya. Vaksinasi non-inti adalah vaksinasi yang hanya dibutuhkan oleh kucing-kucing tertentu saja, tergantung dari beberapa faktor seperti lokasi geografis dan gaya hidupnya.

Beberapa vaksinasi inti untuk kucing adalah sebagai berikut:

  • Panleukopenia. Vaksin ini diberikan pada kucing yang berusia enam sampai delapan minggu, sebelum berinteraksi dengan kucing lain. Apabila kucing tersebut berada pada lokasi yang beresiko timbulnya penyakit, maka vaksin ini dapat diberikan pada usia 6 minggu dan diberikan setiap tiga atau empat minggu sampai kucing berusia 16 minggu.
  • Feline Viral Respiratory Disease Complex. Vaksin ini mengandung strain herpesvirus dan calcivirus. Biasanya, vaksin ini dikombinasikan dengan vaksin panleukopenia. Pemberian vaksin ini dilakukan pada saat kucing berumur 6 minggu.
  • Rabies. Vaksin ini sangat wajib dilakukan dan diatur oleh Undang-undang. Vaksinasi ini sebaiknya dilakukan oleh dokter hewan. Ada tiga jenis vaksin rabies: recombinant, nonadjuvanted, dan adjuvanted. Untuk anak kucing, diberikan vaksin recombinant atau adjuvanted pada usia 8 sampai 12 minggu.

Adapun vaksinasi non-inti untuk kucing adalah sebagai berikut:

  • Feline Leukemia Virus. Vaksin ini tidak seratus persen efektif. Masih ada kemungkinan kucing dapat terinfeksi. Vaksin ini diberikan kepada kucing saat berumur 8 sampai 12 minggu dan diberikan lagi pada umur 14 sampai 16 minggu.
  • Feline Immunodeficiency Virus. Feline Immunodeficiency Virus mirip virus HIV pada manusia. Virus ini bisa menyebar melalui luka bekas cakaran maupun bekas gigitan. Vakisnnya sudah ada, tapi masih tidak jelas keefektifannya.
  • Chlamydophila Felis.
  • Bordetella bronchiseptica.

Efek Samping Vaksin untuk Kucing

Walaupun vaksin untuk kucing dapat menyelamatkan jiwa, vaksin untuk kucing juga berpotensi untuk memiliki efek samping yang cukup serius. Berikut ini adalah beberapa efek samping vaksin untuk kucing:

  • Sarcoma. Efek samping ini mungkin dijumpai pada vaksin adjuvant. Walaupun demikian, efek samping ini juga bisa muncul pada vaksin jenis lain. Sarkoma harus ditangani dengan segera. Jadi, apabila kucing akan divaksin, tanyakan dahulu apakah vaksin tersebut adjuvant atau bukan.
  • Penyakit ginjal kronis. Banyak kucing rumahan yang mati akibat penyakit ginjal bila dibandingkan dengan kucing liar yang tidak pernah divaksin. Hal itu terjadi karena kucing rumahan terlalu banyak mengalami vaksinasi. Menurut penelitian, terdapat hubungan antara vaksin FVRCP dengan inflamasi ginjal.
  • Reaksi alergi. Hal ini terjadi karena reaksi berlebihan dari sistem kekebalan tubuh terhadap benda asing yang memasuki tubuh. Salah satu contoh reaksi alergi adalah anafilaksis. Reaksi alergi ini bisa membahayakan jiwa kucing. Apabila reaksi alergi tersebut mengenai paru-paru, maka gejala yang muncul adalah batuk-batuk, susah bernapas, batuk darah, pingsan, dan mati.
  • Muntah dan diare
  • Rasa sakit pada bagian yang disuntik
Category: KesehatanTags: